Ada alasan kuat mengapa Vierratale (dahulu Vierra) tetap berdiri kokoh sebagai salah satu band pop paling berpengaruh di Indonesia selama hampir dua dekade. Di tengah bongkar-pasang tren musik tanah air, karya-karya mereka selalu menemukan jalan untuk tetap relevan, dicintai Gen Z, dan terus diputar dari panggung festival hingga kafe-kafe tempat nongkrong.
Jika kita melacak kembali akar keberhasilan tersebut, jawabannya bermuara pada mahakarya debut mereka di tahun 2009: album “My First Love”.
Album My First Love bukan sekadar kumpulan lagu hit yang kebetulan viral. Secara musikalitas, album ini menjadi masterpiece berkat kejeniusan aransemen Kevin Aprilio yang memadukan dentingan piano klasik nan teatrikal, ketukan drum power-pop yang dinamis, serta permainan gitar Raka Cyril yang melodius namun bertenaga.
Sebut saja lagu-lagu legendaris seperti “Dengarkan Curhat”, “Seandainya”, “Bersamamu”, hingga “Perih”. Struktur lagunya dibangun dengan alur emosi yang presisi. Namun, ramuan tersebut tidak akan sempurna tanpa kehadiran sang frontwoman, Widy Soediro.
Widy menghadirkan warna vokal yang sangat khas: jernih, jujur, tanpa teknik yang berlebihan, namun mampu menyampaikan kerapuhan sekaligus kekuatan emosi secara bersamaan. Kombinasi instrumen yang megah dan kepolosan vokal Widy inilah yang menciptakan identitas musikalitas Vierratale yang iconic dan tidak bisa ditiru oleh band lain.
Lagu-lagu di album My First Love bertema sederhana—tentang cinta monyet, rasa cemas digantung kepastian, hingga perihnya dikhianati. Namun karena dikemas dengan musikalitas yang matang, lagu-lagu tersebut berubah menjadi arsip memori kolektif.
Bagi generasi yang tumbuh di tahun 2000-an, lagu Vierratale adalah mesin waktu menuju masa remaja. Sementara bagi generasi Gen Z hari ini, aransemen musik mereka terasa fresh, dramatis, dan sangat pas untuk menyuarakan dinamika emosi anak muda modern. Itulah definisi sejati dari karya musik yang lestari.
ada baiknya kita membongkar gambaran lagu-lagu dari My First Love yang pastinya akan mereka bawakan di atas panggung nanti.
“Dengarkan Curhatku”
Tidak butuh waktu lama untuk memilih lagu ini sebagai kandidat track terbaik dari My First Love. Intro yang bergaung, kuatnya permainan piano Kevin, hingga chorus to the point untuk meminta jujur atas rasa cinta menjadi gambaran tepat dari “Dengarkan Curhatku”. Pengulangan kalimat di dalam chorus sudah pasti menciptakan paduan suara setiap Vierratale tampil.
“Perih”
Track drum, piano, dan gitar yang menari-nari sebagai fondasi lantunan suara Widy menjadi nilai musikalitas yang kuat dari “Perih”. Saya membayangkan semua tangan penonton akan diangkat sambil digerakkan ke kiri dan kanan sebelum akhirnya masuk ke chorus yang ingin tetap mencoba kuat di dalam cobaan hubungan cinta.
“Bersamamu”
Lantunan piano yang menjadi instrumen utama dari “Bersamamu” membawa kita seperti sedang menonton perjalanan cinta dari sebuah film Disney. Nomor romantis ini memiliki komposisi pelan tapi pasti yang dibangun mencapai klimaks di penghujung lagu. Ending-nya pun berakhir manis dan penuh semangat.
“No!”
Distorsi gitar langsung menyerang saat “No!” diputar yang tentunya berkat faktor dari background musik Raka sendiri. Lirik bahasa Inggris dipilih Kevin untuk lagu ini dengan penulisan yang simple. Titik seru lainnya ada dari permainan drum Tryan yang membawa New Wave-esque di bagian chorus. Seharusnya lagu ini bisa lebih terkenal lagi.
“Terbang”
Saya sempat tertipu saat mendengar lagu ini. Ternyata ada twist di bagian intro-tidak hanya soal komposisi musiknya, tapi ada vokal Tryan di dalamnya. Bisa dibilang lagu ini membawa tren yang lagi dijaga setelah lagu “No!” yang cukup nge-rock. Inilah salah satu hal yang disadari setelah mendengar My First Love berurutan dari awal hingga terakhir.
“Rasa Ini”
Ada treatment yang sama dalam “Rasa Ini” seperti “Bersamamu”. Bait pertama yang hanya diiringi piano sudah membuat lagu ini sangat nyaman di telinga. Tapi ketika kita dibawa masuk ke dalam chorus, saya sangat senang mendengar suara Widy yang terdengar seperti menggunakan teknik mixing double tracking sehingga membuat suaranya yang tipis menjadi lebih bold dan memorable. Manis sekali.
“Jadi Yang Kuinginkan”
Nomor energik yang memang tidak sekeras “Terbang” atau “No!”, tapi sudah cukup membuat para penonton bergoyang saat dimainkan di atas panggung. Tidak ada yang terdengar salah atau kurang dari “Jadi Yang Kuinginkan”. Vierratale berhasil menciptakan lagu anthemic yang layak menjadi encore mereka.
“Manusia”
Ada aura New Wave di awal “Manusia”, lalu disambut sayatan gitar Raka yang sempat memberikan harapan besar untuk jadi jagoan dalam komposisi lagu ini. Namun ternyata Vierratale malah membawa kita ke zona nyaman karena “Manusia” terdengar sangat catchy dalam bentuk sederhana.
“Seandainya”
Sepertinya sudah tidak terlalu perlu dijelaskan tentang lagu “Seandainya”. Nomor paling perfect dari rangkaian lagu My First Love. Semua personil Vierratale paham bagaimana mengeluarkan skill terbaik mereka dalam porsi yang tepat. Saya yakin kalian juga setuju dengan statement ini: tidak ada kekurangan yang bisa didengar dari “Seandainya”.
“Bintang”
Lirik yang penuh harap untuk bintang jatuh untuk mengabulkan permohonan sangat menggambarkan gambaran lirik Vierratale. “Bintang” yang dipilih sebagai nomor pamungkas memang tidak sebaik lagu-lagu sebelumnya, tapi setidaknya tetap menunjukkan inspirasi utama Vierratale.
Mendengar kembali My First Love dari Vierratale memberikan satu kesimpulan bahwa mereka telah menjadi unit mesin hits demi hits yang lestari bahkan hingga hitungan belasan tahun. Setiap festival musik yang membawa mereka sebagai performer pun selalu menjanjikan aksi panggung yang optimal.
Rasakan Kemegahan Aransemen Vierratale Secara Live di Konser Pita Kita 2026!
Mendengarkan album My First Love lewat headphone memang selalu berhasil menerbitkan kerinduan. Namun, berada di dalam Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) pada Selasa, 30 September 2026 nanti akan memberikan pengalaman yang jauh lebih emosional dan magis.
Sebagai salah satu penampil utama dalam gelaran bertema “When Women Take The Stage”, Vierratale siap menyuguhkan pertunjukan musikalitas berkelas. Bayangkan saat intro piano khas Kevin mulai bergema di dalam venue, dan kamu bernyanyi bersama ribuan pasang suara melepas segala penat rasa di dada.
Tiket Presale 2 (155K) Masih Tersedia—Amankan Kursimu Sekarang!
Antusiasme penonton untuk menyaksikan kombinasi musikalitas Vierratale, Niken Salindry, dan Naykilla sangat luar biasa. Terbukti, kategori Early Bird dan Presale 1 telah dinyatakan Sold Out.
Saat ini, penjualan tiket memasuki fase Presale 2 (Official Ticket) seharga Rp155.000. Jangan tunda lagi keputusanmu sebelum kuota tiket fase ini kembali ludes!
-
Beli Tiket Langsung via Celestix: Klik di Sini – Celestix Konser Pita Kita (Presale 2 Rp155.000)
-
Informasi Event & Rundown: Pantau akun Instagram resmi @konserpitakita dan dapatkan berita eksklusifnya hanya di 24hour.id.

Media Online, IT Business Development, & Creative Digital Business Analyst, Explain Your Obstacle, Let Us BeYour Solver










