Siapa bilang musik tradisional hanya milik generasi terdahulu, dan siapa pula yang bilang panggung koplo hanya ramah untuk musisi pria? Di tengah arus modernisasi, seorang remaja perempuan asal Kediri sukses membalikkan semua anggapan tersebut. Ia adalah Niken Salindry.
Menjelang penampilannya di Konser Pita Kita 2026 pada Selasa, 30 September 2026 di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), nama Niken bukan sekadar pelengkap daftar penampil. Ia adalah wujud nyata dari sebuah gerakan besar ketika perempuan mengambil alih kendali penuh atas panggung musik tradisi.
Perjuangan Menembus Batas: Dari Sinden Terop hingga Panggung Megah
Niken Salindry tidak mendapatkan popularitasnya secara instan dalam semalam. Lahir dan tumbuh di lingkungan seni, perjalanannya dimulai sejak ia masih anak-anak. Menjadi sinden cilik bukanlah hal yang mudah. Di saat anak-anak seusianya menghabiskan waktu untuk bermain, Niken harus mengasah cengkok vokalnya yang magis, mempelajari pakem-pakem seni karawitan, dan tampil dari panggung ke panggung hajatan desa (terop).
Industri musik campursari dan koplo modern kerap kali diidentikkan dengan lanskap yang maskulin atau didominasi oleh penyanyi yang jauh lebih senior. Namun, Niken menolak untuk ciut. Ia membawa sesuatu yang segar: memadukan kemurnian cengkok sinden Jawa dengan ketukan koplo modern yang dinamis dan adiktif. Dedikasi dan ketangguhannya di balik layar inilah yang perlahan mengantarkannya dari panggung desa menuju festival-festival megah di tanah air.
Langkah berani Niken menyuntikkan warna modern ke dalam campursari ternyata melahirkan fenomena baru. Musik koplo modern hari ini bukan lagi musik pinggiran. Di tangan musisi muda seperti Niken, genre ini bertransformasi menjadi pop culture yang memiliki pasarnya sendiri yang sangat masif.
Anak-anak muda, mahasiswa, hingga pekerja kantoran tidak lagi ragu untuk ikut bernyanyi dan bergoyang. Lagu-lagu yang dibawakan Niken menjadi media katarsis massal—sebuah ruang di mana orang-orang bisa merayakan kesedihan atau kebahagiaan hidup lewat ketukan kendang yang menghentak. Niken membuktikan bahwa musik daerah memiliki kelas dan daya pikat yang sejajar dengan genre musik populer lainnya.
Kehadiran Niken di panggung Konser Pita Kita 2026 adalah representasi paling pas untuk tagline “When Women Take The Stage”. Di atas panggung, ia bukan sekadar bernyanyi. Dengan karisma dan suaranya yang menggelegar, Niken memimpin ribuan penonton, mengendalikan energi satu venue, dan mematahkan stereotip gender di industri musik tradisional.
Melihat Niken tampil secara langsung adalah sebuah suntikan energi positif. Ia adalah simbol bahwa perempuan muda bisa berdaya, bisa memimpin, dan bisa dihormati karena kualitas karya serta perjuangannya yang luar biasa.
Ikut Jadi Saksi Lahirnya Energi Perempuan Hebat di Graha Cakrawala!
Menonton perjuangan dan magisnya penampilan Niken Salindry melalui layar kaca tentu tidak akan pernah cukup. Kamu harus berada di sana—di dalam Graha Cakrawala UM—merasakan langsung getaran kendang koplo modern dan menyuarakan wishlist lagu andalanmu bersama ribuan perempuan hebat lainnya.
Konser Pita Kita 2026 dirancang khusus sebagai ruang aman bagi kamu untuk melepaskan segala penat dan merayakan kekuatan diri. Bersanding dengan romansa pop nostalgia dari Vierratale, malam tanggal 30 September nanti dipastikan akan menjadi salah satu sejarah event terbesar di Malang tahun ini.
Jangan sampai kehabisan slot! Tiket kategori Presale terus diburu oleh pencinta musik Malang Raya setiap harinya di platform Celestix. Ajak sahabat terbaikmu dan amankan kursimu sekarang juga!
Jalur Resmi Tiket & Informasi:
Beli Tiket Online: Celestix – Konser Pita Kita
Pantau Update Grid & Line-Up: Ikuti akun Instagram resmi di @konserpitakita dan dapatkan berita terbarunya eksklusif di 24hour.id.

Media Online, IT Business Development, & Creative Digital Business Analyst, Explain Your Obstacle, Let Us BeYour Solver










